Banyuwangi! Adalah destinasi saya selanjutnya setelah mengexplore Bali dan sekitarnya. Kota yang berada di ujung timur Pulau Jawa ini menyimpan banyak keindahan alam nan begitu mempesona. Kota yang dijuluki dengan The Sunrise of Java ini masih sangat minim pelancong dari Indonesia disana, lebih banyak bule nya dibanding orang kita. Jadi jangan heran, ketika kamu berkunjung kesana menemukan hal yang demikian.

Baiklah! Pada tulisan ini saya akan menceritakan sedikit perjalanan saya menjelajahi kota unik ini. Berawal dari perjalanan saya dan teman-teman kantor dari Denpasar, Bali, kami langsung melanjutkan perjalananan menuju Banyuwangi.

Dari Denpasar, kami menuju Pelabuhan Gilimanuk menggunakan bus. Setelah sampai di Pelabuhan Gilimanuk, kami melakukan penyebrangan dengan kapal menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Setelah sampai di Pelabuhan Ketapang, kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Karangasem.

Sebagai backpacker, kami memilih untuk menginap di rumah singgah. Tidak dikenakan biaya untuk menginap ditempat tersebut. Di rumah singgah ini juga menyediakan jasa sewa sepeda motor dengan rentang harga 75,000 selama 24 jam.

Setelah tidur sekitar 8 jam, sekitar jam 09.00 pagi, kami memulai explore Banyuwangi. Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Hutan de Djawatan. Hutan ini berada di Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Hutan ini sekilas mirip hutan Fangorn di dalam Film The Lord of The Rings. Nggak perlu jauh-jauh sampai ke New Zealand ‘kan? Hahaha….

explore banyuwangi backpacker
Beroto di Hutan de Djawatan

Di hutan ini, kami menghabiskan waktu untuk berswafoto ria. Banyak sekali spot-spot foto unik disini. Mulai dari payung-payung cantik, rumah pohon, hingga spot area yang hiasi pernak-pernik khas destinasi hits. Tempat ini masuknya gratis lho, cuma bayar parkir saja.

Ok! Dari Hutan de Djawatan, kami melanjutkan perjalanan ke Red Island. Red Island terletak di desa Pesanggaran, Banyuwangi. Berjarak sekitar 40 km dari Hutan de Djawatan atau 80 km dari kota Banyuwangi.

Red Island sudah cukup terkenal dikalangan lokal maupun mancanegara. Pemandangannya yang aduhai ditambah dengan adanya lokasi surfing membuat tempat ini wajib dikunjungi ketika berada di Banyuwangi.

explore banyuwangi backpacker
Capek setelah latihan surfing

Saya sarankan, datanglah kesini saat sunset, agar kamu bisa menikmati matahari terbenam dengan latar belakang bukit batu yang melegenda. Sungguh tidak ada cara yang lebih baik untuk mengakhiri harimu di Banyuwangi daripada ini, Guys!

Pada hari kedua, sekitar jam 00.30 dini hari , kami melanjutkan destinasi kami ke Kawah Ijen. Starting point utama Kawah Ijen berada di Paltidung. Di titik inilah kita mulai pendakian. Untuk berpetualang menuju Kawah Ijen, disarankan untuk membawa jaket tebal, karena suhu disana sangat dingin, Guys! Selain itu, pastikan kamu juga sudah menyewa masker khusus dari warga lokal di sana!

Setelah 3 jam pendakian, kami sudah mencapai puncak. Dari puncak ini, kami harus turun lagi ke arah kawah gunung untuk menikmati eksotisnya blue fire. Rasa lelah selama pendakian terbayarkan ketika kami bisa melihat the legend of blue fire yang terkenal dari Kawah Ijen. I’m so excited!

Blue Fire di Kawah Ijen yang menjadi incaran pengunjung

Ketika menjelang pagi, kami pun harus naik ke puncak lagi untuk menikmati keindahan matahari terbit yang sangat menawan dan berfoto-foto di sekitaran Kawah Ijen. Jujur! Saya sungguh merinding menyaksikan ciptakan Tuhan ini.

Kawah Ijen dengan pemandangannya yang mempesona

Setelah berfoto-foto, kami pun turun dari Gunung Ijen dan balik ke homestay untuk prepare balik ke Jakarta. Perjalanan explore Banyuwangi telah berakhir. Sebenarnya masih banyak tempat yang belum sempat dijelajahi. Ya, karena kami pekerja kantoran, waktu untuk liburan dibatasi. Tapi gak apa-apa, semoga suatu saat nanti saya bisa kembali kesini lagi untuk explore Banyuwangi lebih lengkap.

See next time… Pikuler

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *