Tak pernah sedikit pun dipikiran saya untuk mendaki gunung sebelumnya, namun karena ajakan seorang teman, saya jadi tertarik untuk mencobanya. Ya, walaupun dengan hati yang kurang yakin, tapi saya penasaran gimana rasanya menjajalkan kaki di puncak gunung yang indahnya sangat luar biasa itu.

Sebagai pemula, gunung pertama yang cocok untuk didaki itu adalah Gunung Papandayan. Dengan ketinggian 2665 mdpl, gunung ini menjadi tempat favorit bagi para pendaki pemula seperti saya. Jalur trekkingnya cukup landai, dan untuk sampai ke puncak hanya membutuhkan waktu paling kurang 4 jam saja.

Perjalanan saya berawal dari Terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Saya dan teman-teman yang lain (Ova, Windi, Irhas) mepo di sana. Untuk menuju Gunung Papandayan, kami harus naik bus dengan Rute Garut, Jawa Barat. Kami berangkat paling kurang jam 22.00 wib dari Terminal Kampung Rambutan. Selama perjalanan kami memilih untuk tidur agar memiliki energi yang cukup untuk mendaki Gunung Papandayan esok paginya.

Setelah kurang lebih 5 jam perjalanan, tepatnya jam 03.00 pagi, kami sampai di Terminal Guntur, Garut. Dengan style membawa carrier di punggung, sesaat turun dari Bus kami dihampiri oleh supir angkutan dan menanyakan kemana tujuan kami.

Di Terminal Guntur ini banyak angkutan umum untuk menuju kaki Gunung Papandayan yang berbaris rapi menunggu pelanggannya. Sistem pembayarannya dilakukan dengan sistem sewa atau sharing. Salah satu teman saya bertanya kepada salah satu supir angkutan, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mencapai Pasar Cisurupan.

Sang supir menetapkan harga yang terbilang murah, yakni 30rb/orang. Setelah masuk ke dalam angkot, ternyata angkotnya tidak langsung berangkat. Angkot baru akan berangkat apabila sudah memenuhi kuota minimal 12 orang. Setelah menunggu beberapa menit, beberapa rombongan pendaki lain menghampiri angkot yang kami tumpangi. Hingga pada akhirnya jumlah penumpang angkot adalah 13 orang. Angkot kami siap berangkat.

Tatkala kurang lebih 1 jam perjalanan, kami sampai di Pasar Cisurupan. Disini saya, teman-teman, dan rombongan lainnya diturunkan dan dipindahkan ke sebuah mobil pick up. Dengan mobil bak terbuka ini kami langsung diantar ke kaki Gunung Papandayan. Dibutuhkan waktu kurang lebih 45 menit untuk sampai ke kaki Gunung Papandayan dengan rute yang menanjak dan berbelok-belok.

*Untuk harga sewa mobil pickup sudah tergabung dengan harga sewa angkot di Terminal Guntur tadi. Jadi kami tidak perlu bayar biaya lagi. Pastikan kembali kepada supir yang mobilnya kalian sewa di Terminal Guntur guna mencegah miss komunikasi.

Sekitar jam 06.00 pagi, kami sampai di kaki Gunung Papandayan. Disana saya bertemu lagi dengan 2 orang teman (Dian, Asep) yang mana sebelumnya sudah janjian untuk bertemu di kaki Gunung Papandayan.

Sebelum pendakian dimulai, kami beristirahat sejenak sambil memulihkan energi. Saat itu juga, salah satu dari kami melakukan simaksi di Pos Jaga. Di Pos Jaga daftar nama peserta dalam rombongan yang mendaki harus ditulis. Tujuannya demi keamanan dam keselamatan para pendaki.

Istirahat telah usai, simaksi sudah beres, saat yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dengan membaca doa bersama, pendakian Gunung Papandayan dimulai. Langkah demi langkah membuat tarikan nafas saya begitu kencang. Mungkin ini efek pertama kali menjajalkan kaki di gunung.

Selama dalam perjalanan, saya disuguhi oleh pemandangan yang luar biasa. Bukan karena norak, tapi saya benar merasa kagum tentang apa yang ada di sekeliling saya. Indahnya bebatuan kapur yang menjulang tinggi, dengan hiasan gumpalan asap belerang membuat saya bersyukur dan berpikir “inikah rasanya mendaki itu?”

Tak ada merasakan lelah selama pendakian, hanya saja udaranya cukup dingin karena cuaca yang lumayan mendung. Tapi hal tersebut tidak mengurungkan niat saya untuk sampai ke tujuan. 

Tatkala hari sudah hampir siang, saya dan teman-teman sampai di Gubber Hood. Dan tempat inilah kami akan memdirikan tenda dan bermalam. 

Sebenarnya sempat muncul dua pilihan untuk permasalah lokasi mana yang bagus untuk membangun tenda. Karena di Papandayan itu sendiri, ada dua lokasi berkemah untuk para pendaki yakni, Pondok Salada dan Gubber Hood. Setelah kedua lokasi dicek, kami memutuskan Gubber Hood untuk tempat kami berkemah.

Tanpa beristirahat, kami mulai mendirikan tenda. Kami membangun 2 buah tenda. Kami berjumlah 6 orang, 2 cewek (Windi, Ova) dan 4 cowok (Saya, Irhas, Dian, Asep). Tentunya tim cewek dan cowok harus dipisah, supaya tidak terjadi yang tak diinginkan. 😀

Seberes mendirikan tenda, para pendaki cewek mulai memasak. Sementara mereka masak, saya mencoba untuk masuk ke dalam tenda untuk mengistirahatkan diri sejenak dan ditemani dengan alunan lagu Rewrite the Star.

Makanan satu per satu sudah mulai disajikan. Lumpia Tahu khas anak gunung siap disantap bersama. Saya tidak tahu, kenapa pendaki cewek membuat makanan ini, mungkin karena makanan ini mengandung vitamin B1 yang mampu menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh pendaki seperti kami, sehingga tubuh tidak mudah lelah karena kekurangan energi.

Tatkala waktu terus berjalan, kami sibuk melakukan kegiatan masing-masing. Hingga malam datang kami pun beristirahat karena capek seharian berpetualang. Kami mulai tidur sembari bergurau bersama di dalam tenda. Sungguh malam yang indah dan penuh makna. Sekarang saya tahu, inilah rasanya jadi seorang pendaki. Jalinan keakraban antar sesama membuat hidup terasa lebih bermakna.

Keesokan harinya, tatkala sang surya menyapa pagi, saya dan teman-teman yang lain hunting penampakkanya dari ketinggian Gubber Hood. Berswafoto sembari menikmati sunrise dari ketinggian. Saya sangat bersyukur bisa menikmati ciptaan Tuhan yang indah ini.

Sang mentari sudah mulai naik, kami mulai berkemas untuk turun. Ketika turun, kami tidak melewati jalur pendakian dimana kami naik sebelumnya. Kami melewati jalur Pondok Salada, dengan tujuan bisa melihat Edelweis dan menikmati hutan mati Papandayan.

Jujur! Ini pertama kalinya saya melihat Bunga Edelweis, yang mana sebelumnya saya hanya pernah dengar namanya saja. Tapi sayang, saat saya kesini bunga yang dijadikan sebagai lambang cinta abadi itu sudah mulai sedikit punah. Saya tidak tahu sebab, apakah ini kelakuan para pendaki bandel yang memetik bunga ini dan membawanya pulang. Entahlah!

Selanjutnya kami melewati Hutan Mati. Kawasan yang tercipta akibat erupsi pada tahun 2002 silam ini, menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya. Memang unik, sih, karena disini tidak ada tumbuh-tumbuhan yang rimbun layaknya hutan pada umumnya, melainkan hanya dataran berwarna putih yang dihiasi dengan pohon dan ranting-ranting yang sudah mati. Maka dari itulah hutan ini disebut Hutan Mati.

Waktu terus berjalan. Langit mulai mendung dan suhu gunung yang mulai dingin, ditambah dengan hembusan angin yang lumayan kencang, membuat saya merasa kedinginan. Kami pun bergegas untuk secepat mungkin sampai ke bawah.

Sekitar jam 13.00 wib, kami pun sampai di kaki Gunung Papandayan kembali. Istirahat sejenak demi melepaskan lelah. Di depan Pos Jaga sudah berbaris deretan pick up yang siap untuk mengantarkan kami kembali ke Pasar Cisurupan, yang kemudian dilanjutkan dengan Angkot menuju Terminal Guntur. Dari Terminal Guntur, kami melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Lengkap sudah perjalanan saya untuk menjajalkan kaki di gunung untuk pertama kalinya. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Sebagai pemula, saya merasa ketagihan ingin mendaki gunung-gunung lainnya yang ada di Nusantara ini. Tunggu cerita saya selanjutnya, ya!

18 Comments

  1. yuliyani 15th Januari 2019 at 2:28 am

    Keren. Saya juga kadang wonder apa sih enaknya naik gunung, jauh, capek, harus bawa ransel berat lagi 😀 tapi mungkin itu, ya, menikmati kebersamaan dengan sahabat saat tiba di atas.

    Jadi pengen ikut naik gunung juga hihi …

    Reply
    1. admin - Site Author 20th Januari 2019 at 12:31 pm

      Hehe..wonder banget, Mba. Saya pertama coba pengen nagih lagi. 😀

      Reply
  2. Amalya ova 15th Januari 2019 at 5:58 am

    Yuks, kita jelajahi gunung yang lainnya.

    Reply
    1. admin - Site Author 20th Januari 2019 at 12:31 pm

      Hayukkkkk….!!!

      Reply
  3. Dian Hendrianto 15th Januari 2019 at 8:48 am

    hahaha… udah berapa bulan yang lalu ini naiknya. 😀

    Reply
    1. admin - Site Author 20th Januari 2019 at 12:31 pm

      Hahah,,baru punya blog pribadi saya, ian 😀

      Reply
  4. Sunarti kacaribu 15th Januari 2019 at 11:20 am

    Seru banget ya mendaki gunung bareng teman, saya juga pernah mendaki gunung sibayak di sumatra utara. Saat yang tak terlupakan saat melihat matahari muncul dari balik awan, bulat besar dan berwarna jingga..
    Ah… Jadi kangen masa itu…

    Reply
    1. admin - Site Author 20th Januari 2019 at 12:32 pm

      Aihhh,,,kangen bernostalgia lagi ya, Mba? 😀

      Reply
  5. meri 15th Januari 2019 at 12:38 pm

    duuh jadi teringat zaman SMA. Pengen jadi Bagian dari Organisasi NAPAK RIMBA, yang kerjaanya jelajah gunung ….itu tuh kayak uda sekarang

    Reply
  6. Qoty Intan Zulnida 15th Januari 2019 at 1:52 pm

    Dari ceritanya, sih seru ya mendaki gunung. Jadi pengen, deh. Eh, tapi anak-anak dikemanain? Lagipula jalan di jalanan nanjak dikit aja nyari pegangan dan teriak2 tiap ketemu jalanan licin. Masa’ mau mendaki gunung? #eh

    Reply
  7. Melina Sekarsari 16th Januari 2019 at 7:03 am

    Mendaki gunung itu memang bikin ketagihan. Rasanya hati nggak henti-hentinya bersyukur dengan pemandangan di sekitar. Apalagi saat pendakian, teman-teman seperti sebuah keluarga. Apapun yang terjadi, tetap bersama-sama. Kekompakan betul-betul terasa meskipun baru pertama kali bertemu.

    Kapan-kapan, kita harus naik gunung bareng, nih. Agendakan, yuk …

    Reply
    1. admin - Site Author 20th Januari 2019 at 12:34 pm

      Betul, Mba. Keindahan karunia Tuhan membuat kita tak henti-henti untuk bersyukur. Dan kekompakan begitu epic walaupun kita bertemu dengan orang yang baru kita kenal.

      Reply
  8. Yani Handay 16th Januari 2019 at 1:10 pm

    Seru yah,,, pengalaman pertaman saya naik gunung adalah saat membaca novel 5cm,, ah membacanya saja udah membuat takjub plus deg2an setengh mati,, dan ini kali kedua menjajal Gunung Papandayan,, asyik juga.. Cukuplah itu buat Emak2 anak dua macam saya, membayangkan keelokan pemandangn Gunung lewat tulisan, no more action,, hi hi…

    Reply
    1. admin - Site Author 20th Januari 2019 at 12:35 pm

      hehehe,,Mba lucu 😀
      Naik gunung lewat tulisan. Yuk, Mba! Kita coba versi real-nya….

      Reply
  9. Cahaya Kasih 16th Januari 2019 at 4:30 pm

    Waduuh mntap pnulisannya Endo.suka tnter mmbacanya…..klu mau mndaki gunung harus Ada prsiapan mental Dan fizikal seawal mngkiin…krna klu tdk nnti Kita akn cpt kurg stamina….mndaki gunung itu amat mnyeronokkan…tnter juga prnh mndaki gunung sih brsama suami dn teman2…pngalaman mndaki itu amat brhrga bg tnter😊😊😊

    Reply
    1. admin - Site Author 20th Januari 2019 at 12:37 pm

      Wah, dapat komentar dari Negeri Jiran, Malaysia.
      Iya tanter, naik gunung harus memprsiapkan mental dan stamina yang cukup agar sampe ke tujuan.

      Wah,,,tanter nostalgia.

      Reply
  10. Nurul Nurwina 22nd Januari 2019 at 4:29 am

    Wah, seru ya naik gunung. Kisah inspiratif 👍👍

    Reply
  11. Malica Ahmad 22nd Januari 2019 at 8:46 am

    Kereenn. Jadi mengingatkan saya beberapa tahun yang lalu. Bukan seorang pendaki pemula tetapi karena acara kampus, mau nggak mau harus mendaki di gunung Bromo Jawa Timur. Dan rasanya ingin mengulang lagi setelah 14 tahun silam. Hahaha.. Pertanyaannya, masih kuat nggak ya mendaki gunung?

    Reply

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *